Posts Tagged ‘Operator dapodik’

Dapodik Sukses, Bagaimana Nasib Operator?

Kita semua pastinya sepakat bahwa sukses pendataan dapodik adalah peran besar dari operator sekolah, lalu bagaimana nasib operator dapodik?

Kata nasib sepertinya akan membawa kita kepada arti “honor atau gaji”, apakah sudah dipikirkan?
Kalau kita pernah membaca baik itu di comment atau di social media, tentang “curhat”nya operator dapodik tingkat sekolah, sepertinya memang ada yang harus dicermati dan ditindak lanjuti.

Seorang operator mungkin tidak terlalu terbebani dengan pekerjaan input data Guru, data siswa, data sarana prasarana, Namun seorang operator pasti akan sangat terbebani dengan data guru sertifikasi yang harus benar jika tidak maka tunjangan sertifikasi si guru tersebut tidak cair.

Lalu apa yang harus segera ditindaklanjuti?
Perlu adanya aturan yang jelas terkait dengan pengangkatan/penunjukan operator dapodik sekolah, tentu menyangkut syarat, bidang pekerjaan, dan penggajian.

AKHIRNYA CAIR JUGA

Setelah lama menunggu, akhirnya ada kabar bahwa honorarium operator dapodik akan dibayar. Sudah lama saya menunggu adanya informasi ini, akan tetapi saya belum yakin dengan berbagai informasi yang beredar. Saya pernah membaca informasi dari salah satu grup di situs jejaring social facebook.com yang menyatakan bahwa operator dapodik akan mendapatkan tunjangan khusus dari tingkat pusat. Namun, jika dilihat dari narasumber yang menyebarkan informasi tersebut masih belum bisa dipastikan dan belum meyakinkan. Karena ketika ditanya seputar dasar hukum yang mendasari adanya tunjangan tersebut, ternyata yang bersangkutan tidak dapat dikonfirmasi. Belakangan ini banyak informasi yang beredar akan tetapi belum menjamin kebenarannya.

Beberapa hari yang lalu saya coba saling bertukar pikiran dengan teman sesama operator. Dan iseng-iseng saya mencoba membahas tentang honorarium dapodik. Kalau dipikir-pikir dari sejumlah operator dapodik yang ada di kecamatan saya, sepertinya saya sendiri operator yang menuntut kesejahteraan. Apa mau dikata karena ini berhubungan dengan hak dan kewajiban. Ketika ada sosialisasi mengenai pendataan dapodik, salah satu pengurus dapodik menyatakan bahwa segala anggaran yang dibebankan pada anggaran yang ada. Dengan kata lain, beliau memberikan gambaran bahwa penginputan data dapodik ini ada honorariumnya untuk operator. Atas dasar itulah saya seringkali mengkritik secara tidak langsung, akan hak saya yang belum terpenuhi. Lalu bagaimana dengan operator yang lain, apakah mereka seperti saya? Sejauh ini saya belum mendengar operator yang bersikap seperti saya, ada beberapa operator yang berpendapat bahwa ini sudah menjadi tugas dan kewajibannya (ternyata masih ada operator yang bersikap seperti ini, ini baru bisa dibilang pahlawan tanpa tanda jasa).

Sekian lama kabar ini beredar, bahkan jika operator yang ada di kecamatan saya ikut bergabung pada salah satu grup di situs jejaring social facebook.com mungkin mereka akan berfikir sama, karena sebagian besar grup tersebut merupakan curahan hati dari operator yang ada di seluruh Indonesia. Tapi Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu saya sudah menerima honorarium atau hak saya sebagai operator, walaupun jumlahnya tidak seberapa, tapi ya lumayanlah. Itung-itung buat jajan dan ganti pulsa ketika pengiriman data dapodik ke server pusat. Daripada tidak dibayar sama sekali, lebih baik mensyukuri apa yang sudah didapat dan menikmati apa yang telah diperoleh.

AKAN ADA PENCAIRAN HONOR UNTUK OPERATOR DAPODIK

Minggu ini saya dikejutkan dengan sebuah informasi yang entah datangnya dari mana. Info tersebut berkaitan dengan pencairan honor operator dapodik tingkat sekolah. Saya ingat ketika pertama kali mengikuti sosialisasi, walaupun tidak bisa mengingat semua informasi yang disampaikan, tetapi ketika kegiatan sosialisasi tersebut akan berakhir salah satu nara sumber memberikan himbauan,

“Silahkan dapodik ini dikerjakan dengan benar dan seksama, karena data ini akan dijadikan acuan oleh pemerintah pusat, jadi silahkan antara kepala sekolah dan operator saling berkoordinasi, kemudian segala biaya yang ditimbulkan pada pendataan ini silahkan ditanggung oleh sekolah masing-masing”.

Kalau urusan duit, dengan cepat masuk ke memory saya :D .

Himbauan tinggal himbauan, kenyataanya sampai sekarang operator dapodik belum menerima haknya sebagai operator sekolah. Bahkan jika dipresentasikan dari sekian banyak operator ditempat saya bekerja, hanya 0,sekian % yang baru memperoleh honor, malah saya mendengar kalau pun mereka diberi honor, itu dipotong secara terang-terangan oleh kepala sekolah, dengan dalih kepala sekolah juga bertanggungjawab karena menandatangani pemberkasan ini. Apa mau dikata, operator tetap operator. Lalu bagaimana tindakan operator menyikapi hal ini…???

Kembali lagi sudah resiko jadi operator, siapa suruh ngelamar kerja jadi TU di SD. Berbagai macam usaha kami lakukan untuk menuntut hak kami, tapi apa mau dikata mereka yang bisa memenuhi tuntutan kami sepertinya enggan dan bersifat seolah-olah tidak mengetahui akan hak-hak operator yang belum terpenuhi. Bagaimana tidak, sudah sekian bulan pendataan ini terselesaikan, tapi apakah hak sebagai operator sudah terselesaikan…??? Dalam sebuah forum saya pernah mengajukan pertanyaan, kepada narasumber.

“Pak tolonglah, kami ini kerja lembur siang malam, bahkan kami sering diundang untuk sosialisasi, tolong bantu kami untuk menuntut hak-hak kami kepada yang berkepentingan”

Tetapi jawabannya apa…

“Ya nanti juga akan dipenuhi, bahkan kami dari pihak lembaga yang tertinggi di kecamatan, sudah memberikan himbauan kepada kepala sekolah untuk disampaikan kepada guru PNS yang sudah memperoleh sertifikasi, apabila mendapatkan rezeki lebih tolong sisihkan recehan untuk operator”. 

Tapi kenyataannya, sampai sekarang belum ada tuh yang seperti itu. Maklum, pencairan dana sertifikasi terkadang tidak menentu, kadang dua bulan cair, kadang tiga bulan baru bisa cair. Waktu terus berlalu, entah sampai kapan himbauan tadi akan terlaksana. Sebagai operator terkadang saya merasa kapok menerima pekerjaan seperti ini, sudah resikonya besar, tekanannya pun besar pula, tetapi pengertian kepada operatornya hampir tidak ada samasekali. Ya mudah-mudahan seiring dengan berjalannya waktu, akan tumbuh bibit-bibit recehan dihalaman rumah saya (seperti tanaman). Tulisan ini sengaja saya buat (01.45 WIB) sebagai pelampiasan karena saya tidak bisa tidur kalau dipikiran saya terlintas kata dapodik. Mau ngadu kepada siapa, dan mau menuntut kepada siapa, kalau bukan pada selembar kertas putih berukuran B5 yang terkumpul dalam satu file bercover plastic transparan. Kalau kertas tersebut saya sebarkan, saya khawatir kehidupan pribadi saya akan diketahui oleh mereka yang membacanya :D :D . Melalui blog ini, sebagian besar unek-unek tentang dapodik, saya tuangkan disini, karena blog ini saya buat bukan sekedar iseng copas artikel dari blog lain. Tapi blog ini juga saya jadikan sebagai tempat untuk mengumpulkan sampah-sampah yang ada di otak dan pikiran saya.

AKANKAH DAPODIK MEMICU TERJADINYA KESENJANGAN ANTAR PEGAWAI PNS DAN NON PNS

Sudah beberapa bulan, proses pendataan tenaga pendidik dilakukan melalui aplikasi online. Lalu bagaimana hasilnya…??? Berbicara mengenai hasil, sampai saat ini saya belum bisa menyimpulkan, karena semenjak pendataan berakhir saya enggan berbicara tentang dapodik baik dengan teman sesama operator atau dengan pegawai lainnya yang berstatus PNS. Bagaimana tidak, dalam hati saya pernah bertanya

Apakah dapodik itu ada untungnya untuk tenaga pendidik yang berstatus honor, baik untuk kesejahteraan atau untuk jenang masa depan nanti…?

Pertanyaan tersebut belum pernah ada yang mengajukan, baik ditingkat kecamatan atau ditingkat kabupaten sekalipun. Akan tetapi saya pernah mencoba memposting pertanyaan tersebut pada forum resmi dapodik di situs jejaring social facebook. Lalu jawabannya apa dan bagaimana, ada operator yang mengomentari postingan saya seperti ini

Jelas berpengaruh pak, untuk memperoleh tunjangan fungsional dan kualifikasi pendidikan (bagi yang masih kuliah)”.

Lalu saya balik berkomentar,

Memangnya kalau kita memiliki beban jam mengajar kurang dari 24 jam dalam seminggu, apakah bisa…?”.

Beberapa menit kemudian dia mengomentari kembali,

Jelas tidak pak, kan syarat utamanya minimal 24 jam dalam seminggu”.

Saya tutup facebook dan komputer saya matikan, kemudian saya bergegas ketempat tidur dan menarik selimut (daripada melanjutkan perbincangan di dunia maya, mendingan tidur). Bukan maksud saya untuk menghindar atau meninggalkan percakapan tanpa alasan. Kalau beban jam mengajar untuk guru honor kurang dari 24 jam dalam seminggu, sudah jelas berbagai tunjangan tidak akan bisa diperoleh. Kenapa guru honor jumlah jamnya kurang dari 24 jam, jumlah jam mengajar guru honor sebagian besar diambil oleh guru PNS yang memiliki jumlah jam kurang dari 24 jam dalam seminggu. Mengapa demikian, karena syarat untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi dan tunjangan lainnya salah satunya adalah guru PNS tersebut harus memiliki jumlah jam minimal 24 jam pelajaran dalam seminggu. Tapi untuk guru honor jangan khawatir, mungkin saja mereka yang sudah sertifikasi akan menyisihkan beberapa rizkinya untuk mengganti jam yang mereka ambil dari guru honor tersebut (itu juga kalau guru honornya pengertian, kalau guru honornya tidak, ya wassalam).

Memang berat menerima kenyataan sebagai guru honor, seperti kata Bondan Prakoso dalam lagunya, Ya sudahlah, (salah siapa memilih bekerja menjadi guru honor). Ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam menyiasati system dapodik, salah satunya adalah dengan mencari jam mengajar disekolah lain, atau membuat rombel baru bagi kelas yang jumlah siswanya lebih dari atau sama dengan 40. Yang jadi pertanyaan,

“Bagaimana bisa memperoleh jam mengajar di sekolah lain, sedangkan guru di sekolah tersebut kekurangan jam…???

Bagaimana apabila dalam suatu sekolah hanya memiliki 6 rombel dengan masing-masing jumlah siswa dibawah 40 per kelasnya…??? Jelas tidak akan bisa. Yang jelas adanya system pendataan ini, akan berpengaruh bagi tenaga pendidik PNS maupun non PNS. Akan tetapi, untuk tenaga pendidik yang berstatus PNS akan lebih diutamakan jika dibandingkan dengan tenaga pendidik yang berstatus honorer. Padahal kalau dilihat dari etos kerja, antara PNS dan honor tidak jauh berbeda.

OPSD (OPERATOR SEKOLAH DASAR)

Semenjak adanya bergai kegiatan yang berhubungan dengan internet. Sekolah-sekolah tingkat dasar yang ada di Kecamatan Kertasemaya sebagian besar mulai tancap gas dengan operatornya. Seperti apa kegiatan mereka, semenjak diadakannya sosialisasi tentang aplikasi pendataan untuk siswa, PTK dan sekolah terlebih dengan adanya gossip, bahwa kedepan nanti segala macam bentuk pendataan akan melalui system online. Banyak diantara mereka yang segera memberikan fasilitas guna memfasilitasi setiap operatornya dengan barang-barang yang mendukung segala pekerjaanya seperti laptop, notebook dan modem. Betapa nyamannya apa bila saya bekerja seperti ini, didukung dengan berbagai sarana dan fasilitas yang memadai.

 

Namun, dibalik kenikmatan fasilitas yang diberikan, tersimpan sisi gelap yang membuat pekerjaan operator terhambat. Diantaranya adalah informasi dari dinas terkait. Sehubungan dengan maraknya pendataan yang dilakukan dengan system online, tidak jarangan berbagai sosialisasi dilakukan mulai dari tingkat pusat ke tingkat provinsi, provinsi ke tingkat daerah/kabupaten, kabupaten ke tingkat kecamatan dan terkahir dari kecamatan ke tingkat sekolah yang dibinanya. Ibarat air dalam suatu ember, ketika kita mengambilnya dari sumur induk, namun karena medan yang terjal dan curam untuk sampai ke lokasi terakhir, sangat tidak mungkin, bahkan kalau pun bisa akan membutuhkan waktu yang lama jika membawanya sendiri ke tempat tujuan. Sehingga diputuskan untuk membawanya secara berliliran dari satu orang ke orang yang lain hingga sampai ke orang terakhir. Bagaimana dengan kondisi air pada ember tersebut…??? Saya jamin, isinya tidak akan sama dengan jumlah yang kita ambil dari sumur tadi. Kejadian ini seperti yang dialami oleh teman-teman saya yang mengikuti sosialisasi di tingkat kabupaten. Banyaknya form yang dijelaskan, terlebih dengan kurangnya pemahaman dalam bidang komputer dan internet membuat penyampaian ke tingkat yang lebih rendah tidak maksimal dalam penyampaiannya. Bukannya saya sok pintar dari orang yang jabatannya lebih tinggi dari saya, tapi saya memaklumi dan membantu agar jalannya informasi bisa sampai ketingkat yang lebih rendah secara maksimal.

Memang manusiawi, apabila dalam suatu rapat atau sosialisasi tidak semua informasi yang disampaikan bisa kita kerima. Layaknya siswa yang belajar, kurang lebih 6 jam siswa mengikuti kegiatan belajar mengjar, tapi ketika mereka ditanya, “hari ini kamu belajar apa?” Saya yakin mereka tidak akan sepenuhnya menerima pembelajaran hari itu. Lalu apa hubungannya artikel ini dengan judul diatas? Jelas ada hubungannya, walapun hubungan arus pendek (emangnya listrik :p). Dalam sosialisasi aplikasi pendataan beberapa waktu lalu saya menerima masukan dari teman seperjuangan alias sesama operator, dia menawarkan bagaimana kalau kita membuat forum khusus untuk operator sehingga kita bisa saling bertukar informasi. Keberadaan forum perator memang sangat dibutuhkan mengingat saat ini banyak informasi atau pengisian data dengan melakukan system online. Dengan adanya forum ini diharapkan mampu memberikan dan bisa saling berbagi informasi khusnya untuk sesama operator. Awalnya saya menyarakankan mereka masuk ke forum khusus di tingkat nasional yang telah dibuat oleh dinas terkait pada situs jejaring social www.facebook.com namun dengan terbatasnya pengetahuan dan pengalaman, hanya beberapa yang mengikuti forum tersebut. Atas dasar inilah, maka dibentuk forum khusus untuk operator kecamatan kertasemaya dengan nama OPSD.

OPERATOR DAPODIK SUDAH JATUH TERTIMPA TANGGA

“Sudah jatuh tertimpa tangga”, ada pepatah lama mengatakan demikian. Kalimat itu mungkin cocok bagi saya selaku operator aplikasi pendataan dapodik. Bagaimana tidak, dari awal sudah mendapatkan sikap cuek dan respon negative dari nara sumber, pada proses pengerjaannya pun juga mengalami tekanan dari nara sumber, lalu bagaimana dengan proses akhirnya…? Proses akhir tidak jauh berbeda dengan kegiatan awal dan pengerjaan, semuanya berujung pada tekanan. Bagaimana tidak, dari awal kita sudah berusaha mengsosialisasikan kepada rekan guru, hingga penginputan data pada program sampai dengan pengiriman, lalu diakhir pengerjaan, bukannya honor atau lembaran rupiah yang didapatkan melainkan tekanan dan warning dari berbagainara sumber.

Pada saat awal mengsosialisasikan program pendataan ini, banyak rekan guru yang bersikap masa bodo. Mereka menganggap pendataan ini hanya pendataan belaka yang tidak membawa manfaat. Hanya menambahkan kesibukan dan pekerjaan saja, harusnya tidur siang malah nyari arsip kenaikan gaji berkala, arsip ijasah, dan arsip lainnya. Sungguh malang nasib operator, baru awalnya saja sudah mendapatkan tanggapan seperti itu, lalu bagaimana dengan akhirnya.

Pemberkasan telah selesai dilakukan, walaupun dilakukan tanpa ikhlas (sepertinya begitu) tapi apa mau dikata, yang penting data ada. Saat bagi saya sebagai operator untuk bekerja dengan cara menginput data yang sudah ada pada program aplikasi pendataan. Banyak data yang kosong dan tidak diisi, lalu bagaimana pemecahannya…??? Saya tanyakan pada narasumber langsung, jawabannya bagaimana…??? Oh tidak ada, ya sudah lah biarkan saja kosong. Mendapat jawaban seperti itu membuat saya memiliki modal dan dasar hukum apabila ketika pengiriman data ada beberapa data yang kurang valid.

Penginputan data telah selesai, akhirnya saya bisa bernafas dengan lega. Tapi tunggu dulu, setelah penginputan data selesai ada lembaga yang bernama P2TK yang bertugas memverifikasi dan menentukan bahwa data tersebut telah memenuhi syarat atau belum bagi PTK yang bersangkutan. Dan hasilnya ada beberapa data yang tidak muncul. Dari sini mulai masalah baru, tidak jarang PTK yang memprotes kepada operator bahwa data yang mereka kirimkan kenapa bisa tidak tampit di situs P2TK, mereka khawatir kalau tunjangan sertifikasi mereka tidak akan dibayarkan. Padahal orang P2TK berkata, tunjangan sertifikasi bagi PTK yang tidak memenuhi syarat akan ditunda pembayarannya dan akan dibayarkan pada periode berikutnya.

Seperti itulah manusia, ketika mereka mendapat masalah, bukan pemecahan yang dicari, tetapi siapa yang berhak untuk disalahkan. Jangankan untuk memberikan satu atau dua keping uang logam kepada operator, ucapan terima kasih pun tidak terucap dari mulut mereka. Padahal pemerintah sudah menetapkan honor untuk operator dan biaya operasional seperti biaya pulsa internet, mereka dihonor Rp. 1.000,- per siswa yang ada disekolah. Tapi kenyataannya, bukannya honor yang didapat, melainkan segerombolan pertanyaan dan warning dari PTK yang datanya tidak tampil disitus P2TK. Bukan hanya itu, biaya internet pun harus ditanggung oleh operator. Padahal dari pihak P2TK sendiri sudah mengisyarakatkan, bahwa data PTK tidak akan sekaligus tampil, secara bertahap data mereka akan diverifikasi oleh pihak P2TK. Sekalilagi, namanya manusia, memiliki sifat dan sikap yang berbeda. Jangan putus asa untuk mereka yang menjadi operator, tetap jalankan kewajiban anda dan tuntut hak anda.

SUKA DUKA MENJADI OPERATOR DAPODIK

September lalu saya mengikuti sosialisasi yang judulnya “Sosialisasi Pengisian Aplikasi Pendataan Tenaga Pendidik”, dari judulnya saja sudah bisa disimpulkan kalau sosialisasi ini mengenai cara pengisian data pada program/software yang telah diberikan dari Dinas Pendidikan Kabupaten masing-masing. Pendataan ini tidak hanya sekedar pendataan semata, melainkan pendataan untuk menginput semua identitas guru, baik dari fisik sampai dari jabatan dan riwayatnya. Tujuan utamanya adalah tidak lain bahwa nanti pada tahun 2013 mendatang pendataan tenaga pendidik tidak dilakukan dengan pemberkasan seperti yang sudah dilakukan, melainkan dengan menggunakan software/program aplikasi. Data yang sudah kita input tinggal kita kirim ke server pusat, dalam hitungan menit data sudah bisa diterima oleh Dinas Pendidikan di Jakarta. Lalu dalam proses penginputan data dan pengirimannya, itu tugas siapa…??? Pertanyaan seperti ini yang saya tunggu.

Saya ditunjuk oleh kepala sekolah untuk mengikuti sosialisasi, saya pikir hanya untuk sekedar mengisi absen dan mendapatkan uang transport (ngarep), tapi ternyata tidak. Semua yang hadir dalam sosialisasi tersebut merupakan tenaga administrasi yang bisa mengoperasikan komputer di sekolahnya masing-masing. Walaupun saya bukan PNS yang tiap bulannya mendapatkan gaji dari pemerintah dan tunjangan yang mengelilinya tapi saya mendapatkan tugas langsung dari kepala sekolah untuk mengerjkan pendataan terhadap sekolah, tenaga pengajar dan siswa.

Lalu bagaimana dengan tanggapan tenaga pendidik lainnya dalam arti tanggapan guru disekolah. Allah menciptakan manusia itu berbeda-beda, mulai dari fisik, nasib, tingkah laku, dan sebagainya. Pendapat mereka berbeda, ada yang merespon dengan baik (Alhamdulillah, berarti mereka mendukung pemerintah untuk mengikuti perkembangan teknologi), dan adapula yang bersikap acuh tak acuh alias bodo amat. Orang-orang yang bersikap bodo amat ini yang membuat semuanya menjadi terhambat. Bagaimana tidak, ketika sosialisasi berakhir, saya mendapatkan berkas yang harus digandakan kemudian dibagikan kepada PTK, kepala sekolah dan siswa untuk diisi, setelah itu dikumpulkan kembali untuk diinput diaplikasi. Alhasil, dari semua guru yang saya berikan berkas, ada beberapa guru yang sepertinya terlihat enggan untuk mengerjakan, berbagai alasan keluar dari mulutnya, mulai dari kesibukan yang selalu menyertainya, hingga meremehkan pendataan ini, “toh untuk apa sih pendataan ini, saya kan sudah dapat sertifikasi, pangkat sudah golongan IV, pengaruhnya apa sih…?” pertanyaan bagus sekaligus menyakitkan. Kita sebagai operator dari awal sudah mendapatkan respon yang kurang baik dari narasumber, lalu bagaimana respon nantinya. Yang jelas saya sebagai operator, menerima dengan sangat apa yang sudah menjadi tugas dan tanggungjawab saya sebagai seseorang yang ditugaskan untuk menginput data. Dengan kata lain, saya sebagai operator akan mengerjakan apa yang ada, dan kalau tidak ada akan saya tinggalkan, itu resiko pribadi mereka, yang jelas kita sebagai operator sudah memperingatkannya.

Donasi

No Rek : 4238-01-003860-53-1
A/N : AJI KHAHARUDIN


July 2015
M T W T F S S
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
adFly