Posts Tagged ‘honor dapodik’

ITS Siapkan Model Mobil Hemat Energi

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Sedikitnya, empat unit mobil listrik buatan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya akan diujicobakan dalam tour de Java sepanjang 800 km. Salah satu mobil paling menonjol dalam ui coba nanti yakni Lowo Ireng, sebuah mobil sporty, mirip mobil tokoh hero Batman. Menurut Ketua Tim Mobil Listrik Nasional (Molina), Nur Yuniarto, jicoba mulai dilakukan pada Jumat (2/5) hingga Selasa (6/5) mendatang. Berangkat dari Jakarta dan berakhir di Surabaya. Adapun rutenya mulai dari Jakarta – Bandung – Tasikmalaya – Purwokerto – Yogyakarta – Madiun – Surabaya. Tim sedianya akan disambut oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini di Tugu Pahlawan Surabaya.

Nur yang juga dosen Teknis Mesin ITS ini menambahkan, selain mobil listrik, ITS juga berhasil mengembangkan kembali mobil bertenaga surya, Sapu Angin Surya. Mobil yang pernah mengikuti kejuaraan tingkat internasional di Australia ini nantinya juga turut mengiringi perjalanan Tour de Java bersama kedua Molina tersebut. Bahkan, sebagai bentuk dukungan, salah satu panitia dari World Solar Challenge 2015, Steve, juga ikut bersama tim dari ITS dalam tur ini.

Diakui Nur, beberapa kendala dalam melaksanakan Tour de Java ini. Kendala utamanya adalah proses charging pada mobil. Sekali charge, kedua mobil listrik ini mampu berjalan hingga 100 km. Menurutnya, waktu perjalanan bisa menjadi lebih lama karena adanya proses charging ini. “Proses charging mobil ini paling cepat adalah tiga jam sehingga memakan waktu yang lama,”  ujarnya dalam siaran pers yang diterimaROL, Ahad (27/4). Tour de Java kali ini pun turut dimeriahkan oleh hadirnya mobil Lowo Ireng. Mobil baru yang menggunakan komponen mesin IQUTECHE (biasanya digunakan dalam mobil hemat energi Sapu Angin, red) ini juga mengikuti tur dengan tiga mobil hemat energi tersebut.

Perbedaan mobil Lowo Ireng dengan ketiga mobil tersebut adalah Lowo Ireng masih memakai bahan bakar bensin. Namun, Nur menambahkan bahwa Lowo Ireng ini memiliki inovasi mesin yang jauh lebih rumit jika dibandingkan dengan ketiga mobil hemat energi tersebut. “Lowo Ireng ini menggunakan mesin V6 dan menjadi sangat rumit karena peletakan mesinnya ada di belakang bagian mobil,” jelasnya. Nur berharap nantinya keempat mobil rancangan ITS ini dapat menjadi teknologi yang bisa terus dikembangkan. “Semoga kedua Molina yang memiliki warna bendera Indonesia ini nantinya dapat memajukan teknologi otomotif Indonesia yang hemat energi,” tuturnya.

Mendikbud Dukung Pendirian Institut Habibie

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh menyetujui untuk menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pendirian Institut Teknologi BJ Habibie (ITH) Parepare, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional pada Mei 2014. ”Ini setelah Pemkot Parepare berhasil meyakinkan Kemendikbud tentang keseriusan kami menghadirkan Institut Teknologi BJ Habibie di kota niaga ini,” kata Wali Kota Parepare Taufan Pawe menanggapi progres pendirian intitut itu, Ahad (27/4).

Dia mengatakan, setelah penandatanganan MoU pendirian ITH, maka dijadwalkan lembaga pendidikan tinggi terebut mulai beroperasi pada 2015. Sementara mengenai legalisasi lembaga pendidikan itu, lanjut dia, penandatangan MoU ini merupakan tahapan yang wajib dilalui sebelum pengusulan ke presiden untuk menerbitkan Kepres ITH Parepare. Penandatanganan akan dilakukan langsung Wali Kota Parepare, HM Taufan Pawe dan Mendikbud, Prof Dr Ir Muhammad Nuh. Sementara itu, pihak Kemendikbud melalui Kepala Biro Rumah Tangga dan Kepegawaian Kementerian Pendidikan Nasional, Berny Syam menjelaskan, rencana penandatangan MoU dengan Pemerintah Kota Parepare akan dilakukan setelah Mendikbud menghadiri peringatan Hardiknas di Sorong, Papua Barat pada 10 April 2014.

“Tanggal 10 Mei, Pak Menteri akan menghadiri peringatan Hari Pendidikan Nasional di Papua, kita berharap beliau bisa langsung ke Parepare untuk melakukan penandatangan MoU dengan Pemerintah Kota Parepare,” kata Berny. Rencananya, tim teknis pendirian Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Kemendikbud, dalam waktu dekat segera terbang ke Parepare untuk melakukan desk evaluation document dan visitasi”, serta serah terima aset tanah yang rencana menjadi lokasi kampus ITH Parepare kelak. Sementra Plt Sekretaris Daerah Kota Parepare, Mustafa Mappangara, menjelaskan, Pemerintah Kota Parepare akan segera mengkoondisikan jadwal pelaksanaan Hardiknas tingkat Kota Parepare dengan jadwal Mendikbud.

Wah, Mendikbud Sidak Tinjau Kebersihan Sekolah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh sidak sekolah dasar (SD) sesaat setelah menghadiri upacara penutupan kegiatan Karya Bhakti Bedah Sekolah. “Tingkatkan kebersihan, sarang laba-laba dibersihkan, ini sederhana tapi penting,” pesan M. Nuh kepada Kepala Sekolah SDN Pasilian II, Sayim Suryana, di Tangerang, Banten, Senin (22/10).

Menurut dia, menjaga kebersihan sekolah merupakan tanggung jawab semua pihak termasuk guru dan siswa, tidak hanya petugas kebersihan. “Anak-anak perlu diajari kebersihan, termasuk guru juga, itu bagian dari pendidikan karakter,” katanya. Selain SDN Pasilian II, rombongan menteri juga meninjau renovasi yang sedang berlangsung di beberapa ruang kelas SDN Pasilian I. Kepala Sekolah SDN Pasilian I Encih Mintarsih mengatakan ada tiga ruang kelas ditambah satu ruang guru yang saat ini masih direnovasi.

Renovasi yang menelan biaya Rp 191 juta itu dilakukan sejak 20 September 2012 hingga 20 Desember 2012. Mendikbud pun menyempatkan diri melihat kegiatan belajar mengajar di beberapa ruang kelas. “Bagaimana, senang tidak sekolah?” kata M. Nuh pada para siswa yang kemudian dijawab dengan keriuhan. “Senang, Pak,” kata para siswa. Mendikbud juga mengingatkan para siswa agar selalu bersemangat belajar. Sebelumnya Mendikbud menghadiri upacara penutupan kegiatan bedah sekolah di Mts Nurul Hidayah, Tangerang, Banten. Kegiatan bedah sekolah yang merupakan kerjasama Kemdikbud, TNI dan Bank Rakyat Indonesia itu telah berhasil memperbaiki 17 sekolah di seluruh kawasan Jabodetabek. Sementara itu dana yang dianggarkan untuk program tersebut sebesar Rp4,5 miliar yang berasal dari dana bina lingkungan untuk bidang pendidikan Bank BRI.

Mahasiswa Irak Raih Doktor di UII

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN –- Mahasiswa S3 asal Irak, Gailan Hoshi Ali berhasil meraih gelar doctor dari Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Ahad (4/11). Ia dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan menjadi doctor pertama yang diluluskan Program Pascasarjana FIAI UII. Pria kelahiran Bagdad 24 November 1954 ini berhasil mempertahankan desertasi berjudul ‘Fleksibilitas pada Fiqh Imam Abu Hanifah’ di depan tim penguji yang diketuai Prof H Edy Suandi Hamid. Sedang promotornya, Prof H M Nur Kholis Setiawan dan Prof H Amir Mu’allim.

Dijelaskan Gailan Hoshi Ali, saat ini umat Islam menghadapi berbagai perubahan peradaban yang memunculkan berbagai persoalan. Di satu sisi, umat Islam ingin menegakan prinsip identitas keislaman sesuai dengan syariah Illahi. Di sisi lain, umat Islam harus bisa mengikuti perubahan peradaban yang kemungkinan besar menyimpang dari syariat Islam. Agar kedua persoalan ini bisa sinergi umat Islam diwajibkan untuk mencari sebuah metode hidup yang sesuai dengan zamannya.

Dosen tamu Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini memandang fikih Imam Abu Hanifah mempunyai aspek fleksibilitas terhadap kondisi umat saat ini. Fleksibilitas ini bisa menghindarkan perbenturan antar peradaban serta eksploitasi agama Islam oleh kekuatan-kekuatan global. “Meski fleksibel, namun tetap bisa meneguhkan kembali prinsip-prinsip keislaman sejati dalam dunia Islam, baik secara pemikiran maupun tingkah laku,” kata Gailan yang tinggal di Sydney Australia.

Berdasarkan hasil penelitiannya, fikih Abu Hanifah menjaga teks Alquran dan As Sunnah. Artinya, berhenti berandai-andai apabila terdapat teks suci yang secara sanad, signifikan sah dan menyakinkan. Selain itu, fikih Abu Hanifah memiliki ciri aktif melakukan ‘qias’ dengan pertimbangan maslahat atau dikenal dengan perhatian akan roh syariah. Fikih ini juga mempunyai wawasan pemikiran luas dan mengacu pada masa depan.

Fikih ini telah diterapkan pada bidang jurisprudensial, pendirian akidah dan politik, hak asasi manusia, dan hak perempuan. “Penyebab munculnya fikih Abu Hanifah, di antaranya, lingkungan politik yang pluralis, lingkungan budaya dan etnis yang plural, pembentukan kesadaran fikih dan budaya Imam Abu Hanifah yang luas dan mendalam, independensi financial Imam Abu Hanifah, dan debat-debat berbuah yang muncul dalam berbagai mazhab Islami di bawah pengaruh fikih Imam Abu Hanifah,” papar bapak empat anak ini.

Saat ini, kata Gailan, fleksibilitas fikih sudah berkembang cukup memadahi di Indonesia. Hanya saja, perkembangannya masih terhalang oleh sistem pendidikan yang masih memisahkan antara spesialisasi ilmu agama dan spesialisasi ilmu-ilmu kehidupan yang lain. “Adanya pembaruan fikih Islami ini dapat menempatkan ulang umat Islam sebagai Rahmatan Lil’alamin,” ujarnya menandaskan.

AKHIRNYA CAIR JUGA

Setelah lama menunggu, akhirnya ada kabar bahwa honorarium operator dapodik akan dibayar. Sudah lama saya menunggu adanya informasi ini, akan tetapi saya belum yakin dengan berbagai informasi yang beredar. Saya pernah membaca informasi dari salah satu grup di situs jejaring social facebook.com yang menyatakan bahwa operator dapodik akan mendapatkan tunjangan khusus dari tingkat pusat. Namun, jika dilihat dari narasumber yang menyebarkan informasi tersebut masih belum bisa dipastikan dan belum meyakinkan. Karena ketika ditanya seputar dasar hukum yang mendasari adanya tunjangan tersebut, ternyata yang bersangkutan tidak dapat dikonfirmasi. Belakangan ini banyak informasi yang beredar akan tetapi belum menjamin kebenarannya.

Beberapa hari yang lalu saya coba saling bertukar pikiran dengan teman sesama operator. Dan iseng-iseng saya mencoba membahas tentang honorarium dapodik. Kalau dipikir-pikir dari sejumlah operator dapodik yang ada di kecamatan saya, sepertinya saya sendiri operator yang menuntut kesejahteraan. Apa mau dikata karena ini berhubungan dengan hak dan kewajiban. Ketika ada sosialisasi mengenai pendataan dapodik, salah satu pengurus dapodik menyatakan bahwa segala anggaran yang dibebankan pada anggaran yang ada. Dengan kata lain, beliau memberikan gambaran bahwa penginputan data dapodik ini ada honorariumnya untuk operator. Atas dasar itulah saya seringkali mengkritik secara tidak langsung, akan hak saya yang belum terpenuhi. Lalu bagaimana dengan operator yang lain, apakah mereka seperti saya? Sejauh ini saya belum mendengar operator yang bersikap seperti saya, ada beberapa operator yang berpendapat bahwa ini sudah menjadi tugas dan kewajibannya (ternyata masih ada operator yang bersikap seperti ini, ini baru bisa dibilang pahlawan tanpa tanda jasa).

Sekian lama kabar ini beredar, bahkan jika operator yang ada di kecamatan saya ikut bergabung pada salah satu grup di situs jejaring social facebook.com mungkin mereka akan berfikir sama, karena sebagian besar grup tersebut merupakan curahan hati dari operator yang ada di seluruh Indonesia. Tapi Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu saya sudah menerima honorarium atau hak saya sebagai operator, walaupun jumlahnya tidak seberapa, tapi ya lumayanlah. Itung-itung buat jajan dan ganti pulsa ketika pengiriman data dapodik ke server pusat. Daripada tidak dibayar sama sekali, lebih baik mensyukuri apa yang sudah didapat dan menikmati apa yang telah diperoleh.

AKAN ADA PENCAIRAN HONOR UNTUK OPERATOR DAPODIK

Minggu ini saya dikejutkan dengan sebuah informasi yang entah datangnya dari mana. Info tersebut berkaitan dengan pencairan honor operator dapodik tingkat sekolah. Saya ingat ketika pertama kali mengikuti sosialisasi, walaupun tidak bisa mengingat semua informasi yang disampaikan, tetapi ketika kegiatan sosialisasi tersebut akan berakhir salah satu nara sumber memberikan himbauan,

“Silahkan dapodik ini dikerjakan dengan benar dan seksama, karena data ini akan dijadikan acuan oleh pemerintah pusat, jadi silahkan antara kepala sekolah dan operator saling berkoordinasi, kemudian segala biaya yang ditimbulkan pada pendataan ini silahkan ditanggung oleh sekolah masing-masing”.

Kalau urusan duit, dengan cepat masuk ke memory saya :D .

Himbauan tinggal himbauan, kenyataanya sampai sekarang operator dapodik belum menerima haknya sebagai operator sekolah. Bahkan jika dipresentasikan dari sekian banyak operator ditempat saya bekerja, hanya 0,sekian % yang baru memperoleh honor, malah saya mendengar kalau pun mereka diberi honor, itu dipotong secara terang-terangan oleh kepala sekolah, dengan dalih kepala sekolah juga bertanggungjawab karena menandatangani pemberkasan ini. Apa mau dikata, operator tetap operator. Lalu bagaimana tindakan operator menyikapi hal ini…???

Kembali lagi sudah resiko jadi operator, siapa suruh ngelamar kerja jadi TU di SD. Berbagai macam usaha kami lakukan untuk menuntut hak kami, tapi apa mau dikata mereka yang bisa memenuhi tuntutan kami sepertinya enggan dan bersifat seolah-olah tidak mengetahui akan hak-hak operator yang belum terpenuhi. Bagaimana tidak, sudah sekian bulan pendataan ini terselesaikan, tapi apakah hak sebagai operator sudah terselesaikan…??? Dalam sebuah forum saya pernah mengajukan pertanyaan, kepada narasumber.

“Pak tolonglah, kami ini kerja lembur siang malam, bahkan kami sering diundang untuk sosialisasi, tolong bantu kami untuk menuntut hak-hak kami kepada yang berkepentingan”

Tetapi jawabannya apa…

“Ya nanti juga akan dipenuhi, bahkan kami dari pihak lembaga yang tertinggi di kecamatan, sudah memberikan himbauan kepada kepala sekolah untuk disampaikan kepada guru PNS yang sudah memperoleh sertifikasi, apabila mendapatkan rezeki lebih tolong sisihkan recehan untuk operator”. 

Tapi kenyataannya, sampai sekarang belum ada tuh yang seperti itu. Maklum, pencairan dana sertifikasi terkadang tidak menentu, kadang dua bulan cair, kadang tiga bulan baru bisa cair. Waktu terus berlalu, entah sampai kapan himbauan tadi akan terlaksana. Sebagai operator terkadang saya merasa kapok menerima pekerjaan seperti ini, sudah resikonya besar, tekanannya pun besar pula, tetapi pengertian kepada operatornya hampir tidak ada samasekali. Ya mudah-mudahan seiring dengan berjalannya waktu, akan tumbuh bibit-bibit recehan dihalaman rumah saya (seperti tanaman). Tulisan ini sengaja saya buat (01.45 WIB) sebagai pelampiasan karena saya tidak bisa tidur kalau dipikiran saya terlintas kata dapodik. Mau ngadu kepada siapa, dan mau menuntut kepada siapa, kalau bukan pada selembar kertas putih berukuran B5 yang terkumpul dalam satu file bercover plastic transparan. Kalau kertas tersebut saya sebarkan, saya khawatir kehidupan pribadi saya akan diketahui oleh mereka yang membacanya :D :D . Melalui blog ini, sebagian besar unek-unek tentang dapodik, saya tuangkan disini, karena blog ini saya buat bukan sekedar iseng copas artikel dari blog lain. Tapi blog ini juga saya jadikan sebagai tempat untuk mengumpulkan sampah-sampah yang ada di otak dan pikiran saya.

OPERATOR DAPODIK SUDAH JATUH TERTIMPA TANGGA

“Sudah jatuh tertimpa tangga”, ada pepatah lama mengatakan demikian. Kalimat itu mungkin cocok bagi saya selaku operator aplikasi pendataan dapodik. Bagaimana tidak, dari awal sudah mendapatkan sikap cuek dan respon negative dari nara sumber, pada proses pengerjaannya pun juga mengalami tekanan dari nara sumber, lalu bagaimana dengan proses akhirnya…? Proses akhir tidak jauh berbeda dengan kegiatan awal dan pengerjaan, semuanya berujung pada tekanan. Bagaimana tidak, dari awal kita sudah berusaha mengsosialisasikan kepada rekan guru, hingga penginputan data pada program sampai dengan pengiriman, lalu diakhir pengerjaan, bukannya honor atau lembaran rupiah yang didapatkan melainkan tekanan dan warning dari berbagainara sumber.

Pada saat awal mengsosialisasikan program pendataan ini, banyak rekan guru yang bersikap masa bodo. Mereka menganggap pendataan ini hanya pendataan belaka yang tidak membawa manfaat. Hanya menambahkan kesibukan dan pekerjaan saja, harusnya tidur siang malah nyari arsip kenaikan gaji berkala, arsip ijasah, dan arsip lainnya. Sungguh malang nasib operator, baru awalnya saja sudah mendapatkan tanggapan seperti itu, lalu bagaimana dengan akhirnya.

Pemberkasan telah selesai dilakukan, walaupun dilakukan tanpa ikhlas (sepertinya begitu) tapi apa mau dikata, yang penting data ada. Saat bagi saya sebagai operator untuk bekerja dengan cara menginput data yang sudah ada pada program aplikasi pendataan. Banyak data yang kosong dan tidak diisi, lalu bagaimana pemecahannya…??? Saya tanyakan pada narasumber langsung, jawabannya bagaimana…??? Oh tidak ada, ya sudah lah biarkan saja kosong. Mendapat jawaban seperti itu membuat saya memiliki modal dan dasar hukum apabila ketika pengiriman data ada beberapa data yang kurang valid.

Penginputan data telah selesai, akhirnya saya bisa bernafas dengan lega. Tapi tunggu dulu, setelah penginputan data selesai ada lembaga yang bernama P2TK yang bertugas memverifikasi dan menentukan bahwa data tersebut telah memenuhi syarat atau belum bagi PTK yang bersangkutan. Dan hasilnya ada beberapa data yang tidak muncul. Dari sini mulai masalah baru, tidak jarang PTK yang memprotes kepada operator bahwa data yang mereka kirimkan kenapa bisa tidak tampit di situs P2TK, mereka khawatir kalau tunjangan sertifikasi mereka tidak akan dibayarkan. Padahal orang P2TK berkata, tunjangan sertifikasi bagi PTK yang tidak memenuhi syarat akan ditunda pembayarannya dan akan dibayarkan pada periode berikutnya.

Seperti itulah manusia, ketika mereka mendapat masalah, bukan pemecahan yang dicari, tetapi siapa yang berhak untuk disalahkan. Jangankan untuk memberikan satu atau dua keping uang logam kepada operator, ucapan terima kasih pun tidak terucap dari mulut mereka. Padahal pemerintah sudah menetapkan honor untuk operator dan biaya operasional seperti biaya pulsa internet, mereka dihonor Rp. 1.000,- per siswa yang ada disekolah. Tapi kenyataannya, bukannya honor yang didapat, melainkan segerombolan pertanyaan dan warning dari PTK yang datanya tidak tampil disitus P2TK. Bukan hanya itu, biaya internet pun harus ditanggung oleh operator. Padahal dari pihak P2TK sendiri sudah mengisyarakatkan, bahwa data PTK tidak akan sekaligus tampil, secara bertahap data mereka akan diverifikasi oleh pihak P2TK. Sekalilagi, namanya manusia, memiliki sifat dan sikap yang berbeda. Jangan putus asa untuk mereka yang menjadi operator, tetap jalankan kewajiban anda dan tuntut hak anda.

SUKA DUKA MENJADI OPERATOR DAPODIK

September lalu saya mengikuti sosialisasi yang judulnya “Sosialisasi Pengisian Aplikasi Pendataan Tenaga Pendidik”, dari judulnya saja sudah bisa disimpulkan kalau sosialisasi ini mengenai cara pengisian data pada program/software yang telah diberikan dari Dinas Pendidikan Kabupaten masing-masing. Pendataan ini tidak hanya sekedar pendataan semata, melainkan pendataan untuk menginput semua identitas guru, baik dari fisik sampai dari jabatan dan riwayatnya. Tujuan utamanya adalah tidak lain bahwa nanti pada tahun 2013 mendatang pendataan tenaga pendidik tidak dilakukan dengan pemberkasan seperti yang sudah dilakukan, melainkan dengan menggunakan software/program aplikasi. Data yang sudah kita input tinggal kita kirim ke server pusat, dalam hitungan menit data sudah bisa diterima oleh Dinas Pendidikan di Jakarta. Lalu dalam proses penginputan data dan pengirimannya, itu tugas siapa…??? Pertanyaan seperti ini yang saya tunggu.

Saya ditunjuk oleh kepala sekolah untuk mengikuti sosialisasi, saya pikir hanya untuk sekedar mengisi absen dan mendapatkan uang transport (ngarep), tapi ternyata tidak. Semua yang hadir dalam sosialisasi tersebut merupakan tenaga administrasi yang bisa mengoperasikan komputer di sekolahnya masing-masing. Walaupun saya bukan PNS yang tiap bulannya mendapatkan gaji dari pemerintah dan tunjangan yang mengelilinya tapi saya mendapatkan tugas langsung dari kepala sekolah untuk mengerjkan pendataan terhadap sekolah, tenaga pengajar dan siswa.

Lalu bagaimana dengan tanggapan tenaga pendidik lainnya dalam arti tanggapan guru disekolah. Allah menciptakan manusia itu berbeda-beda, mulai dari fisik, nasib, tingkah laku, dan sebagainya. Pendapat mereka berbeda, ada yang merespon dengan baik (Alhamdulillah, berarti mereka mendukung pemerintah untuk mengikuti perkembangan teknologi), dan adapula yang bersikap acuh tak acuh alias bodo amat. Orang-orang yang bersikap bodo amat ini yang membuat semuanya menjadi terhambat. Bagaimana tidak, ketika sosialisasi berakhir, saya mendapatkan berkas yang harus digandakan kemudian dibagikan kepada PTK, kepala sekolah dan siswa untuk diisi, setelah itu dikumpulkan kembali untuk diinput diaplikasi. Alhasil, dari semua guru yang saya berikan berkas, ada beberapa guru yang sepertinya terlihat enggan untuk mengerjakan, berbagai alasan keluar dari mulutnya, mulai dari kesibukan yang selalu menyertainya, hingga meremehkan pendataan ini, “toh untuk apa sih pendataan ini, saya kan sudah dapat sertifikasi, pangkat sudah golongan IV, pengaruhnya apa sih…?” pertanyaan bagus sekaligus menyakitkan. Kita sebagai operator dari awal sudah mendapatkan respon yang kurang baik dari narasumber, lalu bagaimana respon nantinya. Yang jelas saya sebagai operator, menerima dengan sangat apa yang sudah menjadi tugas dan tanggungjawab saya sebagai seseorang yang ditugaskan untuk menginput data. Dengan kata lain, saya sebagai operator akan mengerjakan apa yang ada, dan kalau tidak ada akan saya tinggalkan, itu resiko pribadi mereka, yang jelas kita sebagai operator sudah memperingatkannya.